GARUT — Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan merupakan pilar utama ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Namun, tantangan ketergantungan pada input eksternal dan rendahnya nilai jual hasil mentah masih menjadi hambatan besar.
Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Hj. Imas Aan Ubudiah, mengusung gagasan strategis melalui model Integrated Farming Terpadu. Konsep ini merupakan manifestasi kemandirian pangan yang mengintegrasikan berbagai sektor agraria dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.
Ekosistem Pertanian Sirkular: Zero Waste
Menurut Imas, inti dari kemandirian adalah memutus ketergantungan. Melalui sistem pertanian sirkular atau Zero Waste, limbah dari satu sektor diolah secara cerdas untuk menjadi input bagi sektor lainnya.
“Sinergi antara ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi ini menciptakan fondasi yang kokoh bagi kesejahteraan jangka panjang. Kita manfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik lahan dan sisa panen sebagai nutrisi pakan berkualitas,” ujar Hj. Imas Aan Ubudiah menjelaskan siklus nutrisi terpadu tersebut.
Langkah ini dinilai efektif untuk meminimalisir biaya produksi, terutama di tengah fluktuasi harga pupuk kimia dan pakan pabrikan yang seringkali membebani para petani.
Hilirisasi: Memberi Nilai Tambah Hasil Bumi
Lebih jauh lagi, Imas menekankan pentingnya hilirisasi agar petani tidak lagi sekadar menjual bahan mentah dengan harga rendah. Dengan sentuhan teknologi dan strategi branding yang modern, potensi lokal dapat diubah menjadi produk siap konsumsi yang memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Pengembangan unit pengolahan produk di tingkat lokal diharapkan tidak hanya meningkatkan margin keuntungan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di desa-desa.
Membangun Kedaulatan Ekonomi Mandiri
Sebagai penutup, Imas Aan Ubudiah menegaskan bahwa tujuan akhir dari sistem ini adalah membangun ketahanan ekonomi yang berdaulat atas sumber daya sendiri. Masyarakat diberdayakan untuk menjadi produsen yang mandiri, bukan lagi sekadar konsumen.
“Melalui model Integrated Farming yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, kemandirian bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas ekonomi yang nyata bagi para petani dan peternak untuk mencapai taraf hidup yang lebih bermartabat,” pungkasnya.
Implementasi gagasan ini diharapkan mampu menciptakan kedaulatan pangan yang tangguh terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian pasar dunia, sekaligus menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat Garut dan sekitarnya.







