Jakarta — Anggota DPR RI Fraksi PKB, Teh Imas Aan Ubudiah, menyatakan dukungan penuh terhadap Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual yang digagas dalam rangkaian Temu Nasional Pondok Pesantren PKB.
Menurut Teh Imas, pesantren merupakan ruang pendidikan, pembentukan akhlak, sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, pesantren harus menjadi tempat yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
“Pesantren adalah ruang pendidikan, pembentukan akhlak, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, pesantren harus menjadi tempat yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual,” ujar Teh Imas.
Teh Imas mengapresiasi langkah DPP PKB yang menghadirkan Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual. Ia menilai gerakan tersebut merupakan langkah penting untuk memperkuat perlindungan bagi santri, khususnya anak-anak dan perempuan, sekaligus menjaga marwah pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Saya mengapresiasi dan mendukung penuh hadirnya Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual yang digagas dalam rangkaian Temu Nasional Pondok Pesantren PKB. Gerakan ini penting untuk memperkuat perlindungan bagi santri, khususnya anak-anak dan perempuan,” katanya.
Dalam pernyataannya, Teh Imas juga mengafirmasi ajakan Ketua Umum DPP PKB, Gus Muhaimin, yang menegaskan bahwa seluruh pihak tidak boleh tinggal diam menghadapi kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren.
“Sebagaimana ditegaskan Gus Muhaimin, kita tidak boleh diam. Pesantren adalah kekuatan yang harus kita jaga bersama, bukan dikotori oleh segelintir orang yang menyalahgunakan agama, kekuasaan, dan kepercayaan masyarakat,” tegas Teh Imas.
Teh Imas menekankan, kekerasan seksual tidak boleh diberi ruang sedikit pun. Menurutnya, tidak boleh ada pembiaran, budaya diam, apalagi korban yang takut untuk bersuara. Semua pihak harus hadir, mulai dari negara, lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan pesantren.
“Tidak boleh ada pembiaran, tidak boleh ada budaya diam, dan tidak boleh ada korban yang takut untuk bersuara. Semua pihak harus hadir melindungi santri,” ujarnya.
Sebagai Anggota DPR RI Fraksi PKB, Teh Imas berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan yang berpihak pada perlindungan santri, penguatan pendidikan karakter, serta sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang berkeadilan.
Ia menilai pesantren harus menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan menghormati martabat setiap manusia.
“Sebagai Anggota DPR RI Fraksi PKB, saya berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan yang berpihak pada perlindungan santri, penguatan pendidikan karakter, serta sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang berkeadilan,” ungkapnya.
Teh Imas menegaskan, gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Lebih dari itu, Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual harus menjadi panggilan moral bersama untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, berdaya, dan terlindungi.
“Gerakan ini bukan hanya agenda seremonial, melainkan panggilan moral bersama. Kita ingin memastikan pesantren tetap menjadi tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, berdaya, dan terlindungi,” kata Teh Imas.
Di akhir pernyataannya, Teh Imas mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga pesantren dan melindungi santri dari segala bentuk kekerasan.
“Mari bersama-sama menjaga pesantren. Mari bersama-sama melindungi santri. Mari wujudkan pesantren yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan seksual,” pungkasnya.







