GARUT — Kasus positif Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Garut mengalami tren peningkatan tajam dalam lima tahun terakhir, dari 5.378 kasus pada 2021 menjadi 9.709 kasus pada 2025, dengan total kumulatif mencapai 41.505 kasus. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menyiapkan 620 titik skrining TBC baru melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang akan menggunakan alat X-Ray.
Data ini terungkap dalam Pertemuan Lintas Sektor bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI, Dr. Akhmad Wiyagus, dan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Selasa (22/9/2026).
Bupati Garut menjelaskan, peningkatan temuan kasus ini justru sejalan dengan penguatan deteksi dini yang dilakukan pemerintah daerah. Melalui metode Active Case Finding (ACF) yang terintegrasi dengan program CKG, Pemkab Garut telah melakukan skrining terhadap 94.633 orang di 573 lokasi, dan menemukan 4.904 orang di antaranya positif TBC.
Tantangan Geografis: 2,9 Juta Jiwa, Tersebar di 42 Kecamatan
Dalam pemaparannya, Bupati menyebut tantangan besar Garut terletak pada luas wilayah dan sebaran penduduknya. Dengan populasi 2.948.000 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 3.101,24 kilometer persegi, mencakup 42 kecamatan, 421 desa, dan 21 kelurahan, layanan kesehatan Garut kini ditopang 67 Puskesmas, 148 Puskesmas Pembantu (Pustu), 4.402 Posyandu, serta 9 rumah sakit dengan total 1.183 tempat tidur.
“Besarnya penduduk dan luas wilayah dengan tersebarnya permukiman menjadikan akses percepatan deteksi dini serta keberlangsungan pelayanan sebagai tantangan sekaligus prioritas kami. Bagi kami, Cek Kesehatan Gratis bukan sekadar kegiatan pemeriksaan, tapi juga pintu masuk untuk deteksi dini dan penemuan kasus, termasuk tuberkulosis,” ujar Bupati Garut.
Sebagai tindak lanjut komitmen tersebut, Pemkab Garut telah menyusun Rencana Aksi Daerah Penanggulangan TBC 2025–2029 dan membentuk Tim Percepatan Pengendalian TBC hingga ke tingkat desa, dengan alokasi anggaran khusus yang dimasukkan ke dalam APBD, RPJMD, maupun RKPD.
Temuan Tinggi, tapi Terapi Pencegahan Masih Rendah
Wamendagri Akhmad Wiyagus mengingatkan bahwa penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia mencatat capaian penemuan kasus TBC di Jawa Barat sudah mencapai 96 persen, namun cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru sekitar 17 persen — kesenjangan yang menurutnya menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Bicara kesehatan bukan hanya bicara Kementerian Kesehatan, tetapi butuh kolaborasi. Ini adalah PR kita bersama. Kuncinya pada kontak erat yang harus meminum TPT,” jelas Wamendagri, sembari mengapresiasi komitmen Bupati Garut yang telah mengalokasikan anggaran khusus penanganan TBC.
Target Nasional: 10.939 Titik Skrining X-Ray se-Jawa Barat
Sementara itu, Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus memaparkan tren nasional yang menunjukkan penemuan kasus TBC meningkat dari 48,46 persen pada 2020–2021 menjadi 80 persen pada tahun lalu. Dari estimasi 1.090.000 kasus TBC secara nasional, sebanyak 867.000 pasien di antaranya sudah mendapatkan pengobatan.
Sebagai tindak lanjut, Wamenkes mengumumkan rencana pelaksanaan program CKG menggunakan alat X-Ray di 10.939 titik se-Jawa Barat, dengan Kabupaten Garut mendapat alokasi 620 titik atau lokus skrining.
“Tolong dikawal karena saya siapkan anggaran khusus. Harapannya, kolaborasi lintas sektor ini terus terealisasi agar kita dapat segera mengurangi angka TBC di Indonesia,” tutup Wamenkes.
Pertemuan tersebut ditutup dengan kesepakatan bahwa eliminasi TBC di Garut, maupun secara nasional, membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan aparat desa, kader, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, dunia usaha, media, hingga masyarakat luas.







