Pendidikan dan kebudayaan sejatinya merupakan dua pilar utama dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) masa depan. Tidak hanya cerdas secara intelektual, generasi penerus bangsa juga dituntut memiliki integritas moral yang kuat.
Menyadari urgensi tersebut, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Aceng Malki, menggulirkan gagasan visioner bertajuk “Investasi Peradaban: Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan Inklusif dan Akar Budaya”.
Gagasan ini berfokus pada pemerataan akses pendidikan, peningkatan muruah tenaga pendidik, serta pelestarian identitas lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
Pendidikan Tanpa Batas: Akses Setara untuk Semua
Pilar pertama dalam Investasi Peradaban adalah menciptakan sistem pendidikan yang berkeadilan. Aceng Malki menegaskan bahwa sekolah berkualitas harus mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Untuk mewujudkan pendidikan inklusif tersebut, Aceng mendorong tiga langkah strategis:
- Akses Tanpa Kendala Biaya: Menjamin setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tanpa terhambat masalah finansial.
- Beasiswa Tepat Sasaran: Mengawal program bantuan pendidikan bagi masyarakat prasejahtera guna menekan angka putus sekolah di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Garut.
- Fasilitas Merata: Mengawasi pembangunan dan perbaikan sarana prasarana sekolah hingga ke pelosok daerah demi menciptakan kenyamanan belajar.
Guru Sejahtera, Bangsa Berjaya
Upaya perluasan akses pendidikan, menurut Aceng, wajib diimbangi dengan perhatian terhadap ujung tombak pengajaran, yakni para guru. Dengan tenaga pendidik yang sejahtera dan berkualitas, proses transfer ilmu pengetahuan akan berjalan jauh lebih efektif.
“Kita tidak bisa menuntut standar edukasi yang tinggi jika hak-hak pahlawan tanpa tanda jasa belum terpenuhi. Kesejahteraan dan perlindungan bagi guru serta tenaga kependidikan adalah fondasi utama agar mereka dapat mengajar dengan maksimal,” tegas Aceng Malki.
Selain kesejahteraan, ia juga mendukung penuh program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan agar adaptif terhadap metode pembelajaran modern, termasuk mendorong integrasi teknologi dalam ruang kelas (e-learning).
Menjaga Identitas di Tengah Arus Globalisasi
Di saat yang sama, Aceng Malki mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh melepaskan diri dari akar budaya yang membentuk jati diri bangsa. Pelestarian warisan budaya lokal harus diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan untuk menanamkan kecintaan terhadap nilai-nilai luhur daerah.
“Melalui sinergi antara sekolah yang terjangkau, tenaga pendidik yang mumpuni, dan pemeliharaan adat istiadat, kita sedang membangun fondasi peradaban yang kokoh,” ungkap Aceng Malki.
Sebagai penutup, Aceng menegaskan bahwa muara dari seluruh investasi peradaban ini adalah melahirkan generasi yang seimbang.
“Tujuannya adalah melahirkan warga digital yang modern secara pemikiran, namun tetap teguh memegang akar budaya lokal di tengah arus globalisasi yang kian deras,” pungkasnya.







