Mabda’ Siyasi: Alasan Kenapa PKB Tidak Pernah Sekadar Menjadi Partai

Dalam politik Indonesia, partai sering dinilai dari hal-hal yang gampang dihitung: berapa kursi, berapa suara, berapa menteri. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan, padahal jauh lebih menentukan untuk apa sebuah partai lahir?

Bagi Partai Kebangkitan Bangsa, jawaban atas pertanyaan itu sudah tertulis sejak hari pertama. Namanya Mabda’ Siyasi. Secara harfiah, ia berarti prinsip dasar perjuangan. Namun menyebutnya sekadar dokumen adalah salah kaprah. Mabda’ Siyasi bukan lembar formalitas yang disimpan di lemari sekretariat; ia adalah kompas moral yang menentukan ke mana PKB bergerak, dan yang lebih penting mengapa PKB berpolitik sama sekali.

Di sinilah letak perbedaan yang jarang dibicarakan. Banyak kekuatan politik menyusun visi setelah mereka berdiri. PKB justru berdiri karena sudah punya alasan.

Ambil satu prinsip yang paling sering disalahpahami: PKB masuk ke ranah kekuasaan bukan untuk berkuasa. Kalimat ini terdengar terlalu ideal, bahkan mudah dicurigai sebagai retorika. Tapi bacalah lanjutannya PKB berpolitik untuk memberdayakan yang lemah, melindungi yang minoritas, dan membongkar sistem yang selama ini memasung kedaulatan rakyat. Kekuasaan, dalam kerangka ini, bukan tujuan; ia alat. Dan alat selalu bisa dinilai dari apa yang dikerjakannya, bukan dari seberapa besar ia digenggam.

Konsekuensi dari cara pandang ini berat. Jika kekuasaan hanyalah alat, maka kehilangan kekuasaan bukan akhir perjuangan tapi menyalahgunakannya adalah pengkhianatan terhadap alasan berdirinya partai.

Prinsip berikutnya bahkan lebih menuntut: kekuasaan adalah amanat Tuhan. Bukan hak pribadi. Bukan warisan keluarga. Bukan alat ambisi. Dalam lanskap politik yang kerap memperlakukan jabatan sebagai properti dan kursi sebagai barang wariskan, keyakinan ini terdengar hampir melawan arus. Tapi justru di situ nilainya. PKB meyakini setiap keputusan politik akan dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada rakyat di bilik suara lima tahun sekali, tetapi kepada Allah SWT, tanpa batas waktu dan tanpa ruang untuk pencitraan.

Ini adalah standar yang tidak nyaman. Dan memang seharusnya begitu. Prinsip yang tidak pernah membuat pemiliknya gelisah biasanya bukan prinsip, melainkan hiasan.

Lalu ada dimensi yang membuat PKB relevan justru di zaman yang paling mudah terbelah: politik rahmatan lil ‘alamin. Terbuka untuk semua, lintas suku, agama, ras, dan golongan. Bukan politik identitas. Bukan politik ketakutan.

Perlu diakui, memainkan sentimen adalah jalan pintas yang menggoda. Ia murah, cepat, dan terbukti efektif menaikkan suara. Tetapi ia meninggalkan kerusakan yang jauh lebih lama daripada masa jabatan siapa pun. PKB memilih jalan yang lebih panjang: hadir sebagai solusi bangsa, bukan sebagai penambah masalah. Dalam jangka pendek, pilihan ini terkadang tampak merugikan. Dalam jangka panjang, inilah satu-satunya pilihan yang membuat sebuah partai layak bertahan.

Dua puluh delapan tahun bukan usia yang pendek untuk sebuah partai politik di negeri ini. Selama rentang itu, PKB melewati pasang surut pernah diuji konflik, pernah turun, pernah bangkit. Yang menarik bukan bahwa PKB bertahan, melainkan di atas apa ia bertahan. Bukan karena tren. Bukan karena tekanan. Tapi karena sejak awal PKB tahu untuk apa ia lahir.

Namun tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pujian. Justru sebaliknya. Mabda’ Siyasi adalah kehormatan sekaligus tagihan. Ia menjadi kebanggaan hanya jika ia dijalankan; ia berubah menjadi dakwaan jika hanya dikutip saat momentum harlah lalu dilupakan pada hari-hari biasa. Setiap kali kader PKB duduk di kursi kekuasaan dari DPRD di daerah hingga jajaran pemerintahan pertanyaannya selalu sama: apakah kekuasaan ini sedang dipakai untuk memberdayakan yang lemah, atau sekadar untuk memperkuat diri sendiri?

Menjelang Harlah Ke-28, mungkin itulah refleksi yang paling layak dibawa. Merayakan usia itu mudah. Yang sulit adalah membuktikan bahwa landasan yang kita bacakan setiap tahun masih benar-benar menjadi kompas bukan sekadar hiasan dinding.

Sebab pada akhirnya, sebuah partai tidak dikenang dari berapa lama ia berdiri, melainkan dari untuk siapa ia berdiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *