JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026) pagi. Sidang yang dimulai pukul 08.30 WIB ini turut dihadiri Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, dengan dihadiri 629 dari 732 anggota MPR RI.
Berikut sejumlah poin penting dari pidato kenegaraan Presiden Prabowo:
121 Kebijakan Transformatif dalam 663 Hari
Prabowo mengklaim pemerintahannya telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan transformatif dalam 21 bulan atau 663 hari masa pemerintahan, rata-rata satu kebijakan setiap lima hari.
“Dalam 21 bulan, tepatnya 663 hari sampai hari ini, pemerintahan yang saya pimpin telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan-kebijakan transformatif untuk menyelesaikan masalah-masalah negara,” kata Prabowo.
Ia juga menyinggung kerja keras jajaran menterinya, yang menurutnya sampai ada yang harus dirawat di rumah sakit hingga menjalani operasi akibat tingginya intensitas pekerjaan.
“Demikian kerasnya menteri-menteri saya dan pembantu-pembantu saya telah bekerja. Beberapa di antara mereka terpaksa masuk rumah sakit, ada yang pingsan, ada yang dioperasi, banyak yang kecapekan,” tuturnya.
Swasembada Solar, Hemat Devisa Rp170 Triliun
Prabowo mengklaim Indonesia tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli 2026, menyusul keberhasilan produksi biodiesel B50 berbasis kelapa sawit.
“Janji swasembada energi sekarang sudah mulai kita wujudkan, dengan pertama kali swasembada BBM jenis solar kita berhasil produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit sehingga mulai tahun ini 1 Juli 2026 kita tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri,” ujarnya, seraya menyebut penghematan devisa mencapai US$9,5 miliar atau setara Rp170 triliun.
Ekonomi Tumbuh 5,45%, Optimistis Tembus 6 Persen
“Ekonomi kita pada kuartal pertama tahun 2026 tumbuh 5,61 persen, dan pada semester pertama tahun 2026 tumbuh 5,45 persen,” ujarnya, menyebut capaian tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Meski demikian, Prabowo menegaskan pertumbuhan ekonomi bukan tujuan akhir.
“Tetapi saya tegaskan pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Pangan Aman Hadapi El Nino Terberat
Prabowo mengklaim capaian swasembada pangan berhasil dipercepat dari target empat tahun menjadi satu tahun, sehingga Indonesia siap menghadapi ancaman El Nino tahun ini.
“Di tengah dunia sekarang yang sangat khawatir terhadap kelaparan massal akibat kesulitan pangan dan cuaca yang tidak menentu, kita Alhamdulillah dapat saya laporkan di majelis ini soal pangan dan soal makanan untuk rakyat Indonesia kita berada dalam keadaan aman,” ujarnya.
Kemandirian di Tengah Gejolak Global
Menyinggung konflik geopolitik dan perang dagang yang mengganggu rantai pasok dunia, Prabowo menegaskan Indonesia harus mandiri.
“Dalam keadaan seperti ini, Indonesia harus semakin mampu berdiri di kaki sendiri, kita harus bisa mandiri, kita tidak boleh bergantung pasokan-pasokan dari luar,” ucapnya, menyebut realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931 triliun.
Remunerasi Hakim Naik 280%
Prabowo mengungkapkan remunerasi hakim junior naik hingga 280%, kini di atas rata-rata negara ASEAN, sebagai bagian dari penguatan supremasi hukum dan independensi hakim.
Target 1.100 Kampung Nelayan Merah Putih
Hingga hari ini, 100 Kampung Nelayan Merah Putih telah dibangun, dengan target 1.100 kampung berdiri dan berfungsi pada akhir 2026.
“Untuk memperkuat perikanan kita, kita sedang membangun Kampung Nelayan Merah Putih yang dilengkapi pelabuhan, tempat pelelangan ikan, penyimpanan ruang dingin, bengkel, pengolahan hasil laut, perumahan, dan fasilitas sosial,” katanya.
BPK Selamatkan Keuangan Negara Rp112 Triliun
Rekomendasi hasil pemeriksaan BPK sepanjang 2025 disebut telah menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp112 triliun, sementara DPR RI bersama pemerintah telah mengesahkan 13 RUU hingga Juli 2026, termasuk UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT).







