Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menjadi perhatian serius otoritas kebencanaan hingga Senin (7/9/2026). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan gunung api yang berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 ini masih berpotensi tinggi mengalami letusan susulan dalam waktu dekat.
Erupsi Menerus 25 Jam, Diikuti Suara Dentuman hingga Jawa Barat
Rangkaian aktivitas terbaru dimulai pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB, ketika Anak Krakatau mengalami erupsi menerus disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur — semburan lava merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Episode ini berlangsung selama 25 jam dan baru berakhir pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB, diikuti tiga kali erupsi tipe Strombolian.
Dentuman dan gemuruh dari erupsi ini bahkan terdengar hingga sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya, sampai memicu getaran pada kaca dan pintu rumah warga. Kepala Badan Geologi Lana Saria meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, khususnya soal potensi tsunami.
“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.”
— Lana Saria, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM
Sempat Berhenti, Aktivitas Kembali Muncul Malam Harinya
Meski episode erupsi menerus sempat dinyatakan berakhir Minggu dini hari, aktivitas vulkanik kembali muncul pada malam harinya. Tercatat erupsi pukul 03.53 WIB dengan amplitudo seismik 46 mm berdurasi 30 detik, disusul erupsi lain pukul 20.23 WIB dengan amplitudo 58 mm berdurasi 44 detik — meski tinggi kolom abu pada kedua kejadian tersebut tidak teramati secara visual.
Per Senin (7/9/2026) pukul 06.00 WIB, Badan Geologi menegaskan tingkat aktivitas Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga), dengan ancaman bahaya utama berupa lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi. Kondisi visual gunung pagi ini dilaporkan tertutup kabut dengan cuaca cerah hingga mendung dan angin bertiup lemah ke arah utara dan barat laut.
Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km, Abu Vulkanik Dampaki Banten dan Lampung
Badan Geologi kembali mengimbau masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki untuk tidak mendekati kawah aktif atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak. Sebaran abu vulkanik dilaporkan berdampak pada sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Pandeglang (Banten) dan Lampung Selatan tercatat sebagai daerah paling terdampak. Warga di wilayah terdampak diminta waspada terhadap potensi gangguan saluran pernapasan, iritasi mata, serta iritasi kulit akibat paparan abu vulkanik.
BNPB dan BMKG saat ini terus memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau serta persebaran abu, sembari berkoordinasi dengan pemerintah daerah terdampak untuk langkah mitigasi lanjutan.
Sumber: CNBC Indonesia, detikNews, ANTARA News, MerahPutih.com, Sekelik Metro, Badan Geologi Kementerian ESDM







