GARUT — Di tengah gencarnya pembicaraan soal kualitas pendidikan dari sisi kurikulum, gedung, hingga teknologi, kisah Ulumuddin, guru SMPN 3 Satu Atap Cibalong, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, menjadi pengingat bahwa di banyak pelosok negeri, pendidikan masih sangat bergantung pada kegigihan guru-guru seperti dirinya.
Setiap pekan, Ulumuddin harus menempuh perjalanan sejauh 35 hingga 45 kilometer dari Kecamatan Singajaya menuju sekolah tempatnya mengajar di Cibalong. Jalan yang dilaluinya berbatu, berlumpur, bahkan kerap putus saat cuaca buruk. Perjalanan itu memakan waktu 1,5 hingga 2,5 jam, dan medan yang rusak parah pernah membuat sepeda motornya nyaris terbelah. Ia bahkan pernah harus berjalan kaki beberapa kilometer demi sampai ke sekolah.
“Kalau rangkanya jelek, mungkin motor saya sudah putus,” ujar Ulumuddin kepada Kompas.com.
Pilih Tinggal di Sekolah, Pulang Seminggu Sekali
Agar tak harus bolak-balik menembus medan seberat itu setiap hari, Ulumuddin memilih tidur dan tinggal di sekolah, sementara istri dan anaknya ditinggalkan di rumah. Ia hanya pulang seminggu sekali.
“Tidak setiap hari, tapi satu minggu sekali karena saya tidur dan diam di sekolah meninggalkan istri dan anak, pulang seminggu sekali,” ucapnya.
Hampir dua dekade menjadi guru, tantangan yang dihadapinya terus berganti seiring waktu. Di masa ketika kendaraan belum banyak, ia bahkan harus berjalan kaki beberapa kilometer setiap hari untuk mencapai sekolah.
“Kalau Saya Tidak Datang, Anak-Anak Belajar dengan Siapa?”
Semua pengorbanan itu, menurut Ulumuddin, semata demi puluhan siswa yang menunggunya di kelas. Baginya, kewajiban sebagai pendidik menjadi alasan utama untuk terus bertahan di tengah beratnya medan menuju sekolah.
“Bagi saya, yang menjadi semangat pertama adalah kewajiban sebagai pendidik. Kalau saya tidak datang satu hari, anak-anak belajar dengan siapa?” katanya.
Kisah pengabdian Ulumuddin menjadi gambaran nyata bahwa di balik keterbatasan infrastruktur pendidikan di pelosok Garut, semangat guru-guru seperti dirinya menjadi kunci agar anak-anak di pedalaman tetap bisa belajar setiap hari, tanpa terputus oleh jarak dan medan yang berat.







