GARUT — Perekonomian Kabupaten Garut mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid sepanjang 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut, tiga indikator utama pembangunan daerah sama-sama menunjukkan tren membaik: pertumbuhan ekonomi mencapai 5,9%, angka kemiskinan turun menjadi 9,39% per Maret 2025 dari sebelumnya 9,68%, dan tingkat pengangguran terbuka menyusut ke 6,54% per Agustus 2025 dari 6,96% pada periode sebelumnya.
Namun di balik tren positif tersebut, pertanyaan yang lebih mendasar mengemuka: seberapa jauh perbaikan angka ini benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Garut?
Kemiskinan Turun, tapi 252.560 Warga Masih Tertinggal
Penurunan angka kemiskinan memang patut diapresiasi, namun jumlah warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan tetap besar — tercatat 252.560 jiwa berdasarkan Profil Kemiskinan Maret 2025 BPS Kabupaten Garut. Angka ini menegaskan bahwa target pembangunan tidak bisa berhenti pada capaian statistik semata. Yang lebih penting adalah memastikan semakin banyak keluarga memiliki jalan nyata untuk keluar dari jerat kemiskinan, bukan sekadar tergeser tipis di atas garis kemiskinan.
Bekerja Belum Tentu Sejahtera: Mayoritas Masih di Sektor Informal
Data ketenagakerjaan turut menyingkap sisi lain dari pertumbuhan ekonomi Garut. Dari total 1,31 juta penduduk Garut yang bekerja, hanya 31,37% di antaranya bekerja di kegiatan formal — artinya mayoritas pekerja Garut, lebih dari dua pertiga, masih berada di sektor informal yang umumnya minim jaminan sosial, kepastian penghasilan, dan perlindungan kerja jangka panjang.
Temuan ini menggarisbawahi bahwa persoalan ketenagakerjaan di Garut bukan sekadar soal ketersediaan lapangan kerja, melainkan kualitas pekerjaan itu sendiri — apakah cukup produktif, layak, dan memberi kepastian bagi pekerjanya.
Tumbuh Saja Tidak Cukup, Warganya Harus Ikut Naik Kelas
Rangkaian data ini pada akhirnya mengarah pada satu simpulan: pertumbuhan ekonomi Garut baru bermakna penuh jika dirasakan langsung oleh warganya melalui empat arah pembangunan yang saling terkait — petani yang mendapat nilai tambah dari hasil produksinya, pelaku UMKM yang memiliki ruang untuk naik kelas, anak muda yang mendapat peluang kerja dan usaha yang layak, serta desa-desa yang semakin produktif sebagai basis ekonomi lokal.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan Garut bukan sekadar angka pertumbuhan di atas kertas, melainkan seberapa banyak keluarga Garut yang benar-benar merasakan hidup yang lebih baik.
Sumber: Pemkab Garut (2026), BPS Kabupaten Garut — Profil Kemiskinan Maret 2025, Keadaan Ketenagakerjaan 2025






