Sejarah Itu untuk Diingat, Bukan Disembah: Menjawab Tantangan Terbesar Gen Z dan Alpha di Tahun 2026

Oleh: Unjang Asari
Ketua DPC PKB Kabupaten Garut

Sejarah adalah cermin. Ia mengajarkan dari mana kita berasal, luka apa yang pernah kita alami, dan nilai apa yang harus terus kita jaga. Namun sejarah tidak boleh berubah menjadi belenggu yang membuat kita berhenti melangkah.

Sebab, sejarah itu untuk diingat, bukan untuk disembah.

Ratusan tahun lalu, sistem kerajaan di Nusantara melebur, bergeser, bahkan runtuh di bawah bayang-bayang kolonialisme. Di masa itu pula, dinamika penyebaran Islam turut mewarnai tatanan sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat Jawa Barat.

Dari sana kita belajar bahwa setiap zaman selalu membawa perubahan. Ada kekuasaan yang datang dan pergi. Ada sistem yang runtuh dan digantikan. Ada nilai yang diuji, tetapi ada pula warisan yang harus tetap dijaga.

Sebagai generasi yang melek sejarah, menjaga peninggalan masa lalu adalah kewajiban. Tetapi terus-menerus memuja masa lalu, lalu berusaha membangkitkannya kembali tanpa membaca tantangan zaman, justru dapat menjadi kemunduran berpikir.

Hari ini, dunia bergerak dengan sangat cepat.

Ilmu pengetahuan, teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan arus informasi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam ekosistem yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah percepatan teknologi, persaingan global, sekaligus tantangan moral yang tidak ringan.

Maka pertanyaan kritisnya adalah:

Apa yang bisa kita tawarkan kepada Gen Z dan Alpha yang akan mendominasi masa depan?

Mereka tidak cukup hanya diberi romantisme masa lalu. Mereka membutuhkan bekal untuk eksis di masa depan. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar, beradaptasi, berinovasi, dan berpikir solutif.

Mendorong generasi muda untuk terus melihat ke belakang tanpa memberi mereka alat untuk menghadapi masa depan adalah kekeliruan besar. Kita tidak boleh memaksa mereka berpikir mundur ratusan tahun ke belakang, sementara dunia di depan mereka menuntut kecepatan, kecerdasan, dan keberanian mengambil peran.

Karena itu, kunci menghadapi masa depan bukan hanya soal teknologi. Ada tiga hal penting yang harus terus diperkuat.

Pertama, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman dan teknologi. Generasi muda harus dibekali literasi digital, keberanian berinovasi, serta kemampuan membaca peluang.

Kedua, penguatan moralitas dan keyakinan. Di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi, nilai agama, etika, dan akhlak menjadi benteng agar kemajuan tidak kehilangan arah.

Ketiga, menjaga nilai persatuan bangsa. Kemajuan tidak boleh membuat kita tercerabut dari akar kebangsaan. Perbedaan harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Di tengah perubahan besar ini, kita juga tidak boleh lupa membentengi diri secara spiritual. Membiasakan membaca Surah Al-Kahfi ayat 1–10 dapat menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan perlindungan, kejernihan iman, dan keteguhan nilai dalam menghadapi zaman yang penuh ujian.

Masa depan bukan hanya tentang teknologi. Masa depan juga tentang nilai, moralitas, dan iman.

Maka tugas kita hari ini adalah berdiri di antara dua kesadaran: menghormati sejarah, tetapi tidak terjebak di dalamnya; menyambut masa depan, tetapi tidak kehilangan arah.

Sejarah memberi kita akar.
Teknologi memberi kita alat.
Iman memberi kita kompas.

Dan generasi muda membutuhkan ketiganya untuk melangkah lebih jauh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *