Puluhan Hektare Lahan Pertanian Dilanda Kekeringan, Pemkab Garut Salurkan Bantuan Benih untuk Petani

GARUT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut terus berupaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyalurkan bantuan benih padi dan jagung kepada kelompok tani di Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Bantuan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2026 yang digelar bersama Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) dan Kelompok Peduli Pangan di Lapang Harum Madu, Kecamatan Bayongbong, Senin (19/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Garut melalui UPT Pertanian Wilayah 9 Dinas Pertanian menyalurkan sebanyak 250 kilogram benih padi dan 30 kilogram benih jagung untuk membantu petani mempertahankan kegiatan pertanian di tengah kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Kepala UPT Pertanian Wilayah 9 Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Teddy Gumilar, menjelaskan bahwa bantuan diberikan kepada kelompok tani untuk selanjutnya disalurkan kepada para anggota yang membutuhkan.

Menurutnya, penyaluran benih menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

“Benih ini diberikan dari UPTD kepada Ketua Kelompok Tani, untuk kemudian didistribusikan langsung kepada para anggota,” ujar Teddy.

Selain padi dan jagung, pemerintah juga membuka peluang penyediaan benih tanaman hortikultura sesuai kebutuhan para petani, di antaranya bayam, sosin, dan seledri.

Teddy turut mendorong masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT), agar lebih aktif memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai sumber produksi pangan keluarga.

Pemanfaatan lahan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu langkah sederhana dalam memperkuat kemandirian pangan rumah tangga, sekaligus membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ia berharap upaya tersebut dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri serta mengurangi dampak gejolak harga bahan pangan.

Di sisi lain, persoalan kekeringan masih menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Garut. Direktur Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), Mulyono Kadafi, mengungkapkan bahwa sekitar 42 hektare lahan pertanian yang berada di wilayah perbatasan tiga kecamatan mengalami dampak kekeringan ekstrem.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena keterbatasan pasokan air dapat menghambat aktivitas pertanian dan mengancam keberlangsungan musim tanam.

Mulyono menjelaskan bahwa SSC telah menjalin kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mencari solusi terhadap persoalan ketersediaan air dan infrastruktur irigasi.

Sejumlah langkah penanganan disiapkan secara bertahap. Untuk jangka pendek, upaya dilakukan melalui penyedotan air sungai sebagai langkah darurat guna memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Sementara untuk jangka menengah, direncanakan pengeboran sumur dengan dukungan BBWS di sejumlah wilayah, termasuk Desa Padamukti, Kecamatan Pasirwangi, serta Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong.

Adapun untuk jangka panjang, SSC mendorong pembangunan infrastruktur irigasi yang lebih memadai agar para petani tidak terus bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air secara alami.

Selain persoalan irigasi, Mulyono juga menyoroti pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan di hulu sungai dan wilayah pegunungan. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama agar persoalan kekeringan tidak semakin membebani masyarakat.

Kondisi sulit akibat kekurangan air turut dirasakan para petani setempat. Salah seorang anggota Kelompok Wanita Tani, Mayati, mengaku kekeringan kali ini terasa lebih parah dibandingkan kondisi yang biasa dialami masyarakat.

“Ayeuna mah teu aya pisan,” ungkap Mayati dalam bahasa Sunda, yang berarti saat ini air sudah tidak ada sama sekali.

Ia berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian kepada petani, terutama melalui bantuan benih dan pupuk padi untuk mendukung kegiatan pertanian pada musim tanam berikutnya.

Peringatan Hari Pangan Sedunia di Bayongbong tersebut tidak hanya menjadi momentum penyaluran bantuan pertanian, tetapi juga menjadi ruang untuk menyuarakan persoalan yang dihadapi para petani, khususnya terkait ancaman kekeringan dan keterbatasan sarana pengairan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lingkungan, kelompok tani, dan instansi terkait, diharapkan berbagai persoalan pertanian dapat ditangani secara berkelanjutan.

Bantuan benih yang disalurkan Pemkab Garut diharapkan menjadi langkah awal untuk membantu petani menghadapi dampak kekeringan, sementara pembenahan infrastruktur irigasi tetap menjadi kebutuhan penting guna menjaga produktivitas pertanian serta memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Garut.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *