Garut – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terus mendorong lahirnya kepemimpinan NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri organisasi. Melalui forum diskusi yang digelar DPW PKB Jawa Barat bertajuk Menelusuri Jejak Keteladanan Pemimpin NU, berbagai tokoh, akademisi, kiai, serta pengurus NU berkumpul untuk mengulas kembali nilai-nilai kepemimpinan para tokoh besar Nahdlatul Ulama.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa NU membutuhkan sosok pemimpin yang mampu memadukan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dengan pemikiran visioner KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gagasan tersebut dinilai relevan sebagai jawaban atas dinamika kebangsaan sekaligus tantangan yang dihadapi NU pada masa mendatang.
KH Idham Chalid dikenang sebagai pemimpin yang mampu menjaga soliditas organisasi, membangun komunikasi dengan seluruh elemen bangsa, serta menghadirkan keteduhan dalam setiap dinamika. Di sisi lain, Gus Dur menjadi simbol keberanian dalam berpikir, pembelaan terhadap kemanusiaan, penghormatan terhadap keberagaman, serta komitmen menjaga demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan.
PKB menilai perpaduan kedua karakter tersebut menjadi modal penting bagi NU untuk tetap menjadi organisasi Islam terbesar yang mampu menjaga persatuan umat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Forum diskusi juga menjadi ruang refleksi bahwa kepemimpinan NU ke depan tidak hanya dituntut memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan, tetapi juga kemampuan merawat persatuan, membangun dialog, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan.
Sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, PKB menegaskan komitmennya untuk terus menjaga nilai-nilai perjuangan para muassis NU. PKB meyakini Muktamar NU ke-35 merupakan momentum strategis untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu memperkuat khidmat organisasi, menjaga independensi jam’iyah, serta memperkokoh peran NU dalam membangun Indonesia.
Semangat keteladanan KH Idham Chalid dan Gus Dur diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi menjadi inspirasi bagi lahirnya pemimpin NU yang mampu merangkul seluruh elemen, menguatkan ukhuwah, serta membawa organisasi semakin adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Bagi PKB, kepemimpinan NU bukan sekadar soal pergantian figur, melainkan tentang melanjutkan estafet perjuangan ulama untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, menjaga keutuhan bangsa, dan memastikan NU tetap menjadi pilar utama Islam moderat di Indonesia.






