Oleh: Redaksi pkbgarut.id
Bulan Mei selalu membawa ingatan kolektif bangsa ini pada satu kata yang menggetarkan: Reformasi. Namun, setelah lebih dari dua dekade berlalu, sebuah pertanyaan kritis harus kita lontarkan: Apakah Reformasi hari ini sekadar menjadi cerita masa lalu yang dikeramatkan di buku-buku sejarah sekolah?
Bagi generasi muda khususnya Milenial dan Gen Z narasi tentang perjuangan 1998 sering kali terasa berjarak. Mereka tidak berdiri di jalanan saat itu, tetapi mereka mewarisi sistem demokrasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata. Sayangnya, dalam praktik politik konvensional saat ini, generasi penerus ini justru kerap direduksi nilainya. Mereka hanya disanjung saat musim pemilu tiba, dihitung secara matematis sebagai lumbung elektoral, lalu kembali dilupakan setelah surat suara tercoblos.
Gagasan bahwa anak muda “hanya pemilih masa depan” adalah kesesatan berpikir yang harus dibongkar. Generasi muda tidak boleh lagi hanya menjadi objek suara. Mereka adalah subjek, pemilik masa kini, dan pembuat perubahan itu sendiri.
Bukan Sekadar Dongeng Masa Lalu, Perubahan Tidak Datang dari Diam
Demokrasi yang diwariskan oleh Reformasi akan mati muda jika tidak dirawat oleh sikap kritis generasi penerusnya. Hari ini, demokrasi tetap membutuhkan anak muda yang berani peduli, berani bertanya, dan gigih ikut mengawasi jalannya kekuasaan.
Mengapa Gen Z menjadi sangat krusial dalam merawat napas Reformasi? Jawabannya sederhana: Mereka adalah kelompok yang paling dekat dengan isu-isu nyata hari ini.
- Realitas yang Mengimpit: Gen Z tidak lagi bertarung melawan rezim otoriter bermata peluru, melainkan melawan ketidakpastian masa depan. Merekalah yang langsung merasakan tajamnya krisis lapangan pekerjaan (gig economy), mahalnya biaya pendidikan, tekanan ketimpangan ekonomi, hingga ancaman kerusakan lingkungan.
- Senjata Ruang Digital: Jika generasi 1998 mengokupasi gedung parlemen, Gen Z hari ini memiliki ruang digital yang tak terbatas batas geografis. Jempol dan gadget mereka adalah megaphone paling efektif untuk mengawasi kebijakan, menyuarakan ketidakadilan, dan memobilisasi keterlibatan publik dalam demokrasi secara real-time.
Menghidupkan Reformasi dalam “Sikap”
Reformasi tidak boleh berhenti sebagai kata benda. Ia harus diubah menjadi kata kerja yang hidup dalam sikap sehari-hari.
Demokrasi sejatinya bukanlah proses transaksional yang hanya terjadi lima tahun sekali di bilik suara. Demokrasi bukan sekadar tentang memilih, tetapi tentang komitmen panjang untuk ikut menjaga apa yang telah dipilih. Nilai-nilai Reformasi itu nyata jika kita terjemahkan ke dalam tiga pilar sikap anak muda hari ini:
- Berani Bersuara: Menolak diam melihat ketimpangan kebijakan di daerahnya.
- Peduli Sesama: Membangun empati dan solidaritas, karena politik pada dasarnya adalah jalan untuk menyelamatkan nasib orang banyak.
- Ikut Menjaga Demokrasi: Tidak apatis, melainkan mengambil peran aktif—baik dari dalam sistem maupun melalui kontrol sosial di luar sistem.
“Karena perubahan, sekecil apa pun itu, tidak akan pernah datang dari diam.”
Kini, bola api estafet itu ada di tangan pemuda Kabupaten Garut. Kita memiliki kebebasan untuk berbicara, ruang untuk berinovasi, dan jejaring untuk bergerak bersama. Jika sistem yang ada hari ini belum berpihak pada kreativitas dan kesejahteraan anak muda, maka rebutlah panggungnya dan perbaiki sistemnya.
Pertanyaannya kini berbalik kepada kita semua: Di tengah kebebasan berekspresi yang sudah kita nikmati hari ini, apa harapan dan aksi nyata kamu untuk Garut hari ini? Tentukan sikapmu, karena diam bukan lagi pilihan!







