GARUT, pkbgarut.id – Maraknya pemberitaan terkait dugaan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan lembaga keagamaan akhir-akhir ini menjadi perhatian serius jajaran Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kabupaten Garut.
Wakil Ketua DPRD sekaligus Bendahara DPC PKB Kabupaten Garut, S. Fahmi, menegaskan bahwa partainya menaruh atensi penuh terhadap isu ini. Ia ingin memastikan bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan keagamaan tertua dan fondasi moral di Indonesia, tetap menjadi tempat yang paling aman bagi generasi muda.
“Gerakan ini ingin memastikan bahwa pesantren betul-betul menjadi lembaga pendidikan yang aman. Sehingga, orang tua yang menitipkan anaknya ‘ngobong’ (mondok) juga merasa tenang dan aman,” ujar S. Fahmi di sela-sela kegiatan reses anggota DPRD Garut, Rabu (20/05/2026).
Bersihkan Marwah dari “Pesantren Abal-abal”
Langkah proaktif PKB Garut ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin). Ketum PKB telah menginstruksikan seluruh jajaran DPW dan DPC di seluruh Indonesia untuk memasifkan Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual.
Melalui gerakan ini, PKB ingin mengklasifikasi dan memastikan mana pesantren yang benar-benar mendedikasikan keilmuannya untuk kemaslahatan umat, dan mana entitas yang hanya berkedok agama alias “pesantren abal-abal”.
Menurut Fahmi, istilah pesantren abal-abal merujuk pada lembaga yang keberadaannya justru mencoreng nama baik institusi pesantren dan daerah itu sendiri.
“Kita sebetulnya banyak menemukan tempat yang tidak layak namun menggunakan nama pesantren untuk kepentingan tertentu. Pesantren yang didirikan dengan niat baik para kiai jangan sampai dikotori oleh perilaku oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Modernisasi Pesantren dan Rencana Pembuatan Roadmap
Fahmi menambahkan, sangat disayangkan jika citra pesantren dirusak oleh segelintir oknum. Padahal faktanya, lompatan kemajuan di dunia pesantren saat ini sangat luar biasa. Ia mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai ormas untuk membahas proyeksi masa depan pesantren.
“Kita sudah menyaksikan banyak pesantren yang tidak hanya mengajarkan kitab-kitab klasik, tetapi juga mengajarkan ilmu-ilmu modern sebagai respons atas perkembangan zaman, seperti kecerdasan buatan (AI) bahkan robotik,” ungkap Fahmi.
Oleh karena itu, DPC PKB Kabupaten Garut tidak akan tinggal diam melihat dinamika yang mencoreng dunia pendidikan keagamaan. Dalam waktu dekat, PKB Garut akan mengambil langkah konkret dengan mempertemukan para pemangku kepentingan.
“Tidak lama lagi kita akan menggelar sarasehan atau forum resmi terkait isu ini. Kita ingin memetakan persoalan, sekaligus merumuskan ‘road map’ (peta jalan) sebagai pegangan operasional, baik untuk PKB maupun untuk pesantren itu sendiri,” paparnya.
Sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan menjadikan pesantren sebagai basis perjuangan politiknya, PKB tidak akan pernah surut dalam menyuarakan kepentingan pesantren. PKB siap pasang badan dan tidak akan menutup mata terhadap persoalan yang ada, demi kemajuan dan kesucian pendidikan keagamaan di masa depan.







