JAKARTA — Ekosistem digital dan pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia menghadapi sebuah ironi yang cukup mengejutkan. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara pengguna aplikasi media sosial nomor satu di dunia, namun sangat tertinggal dalam hal investasi pengembangan teknologi asalnya.
Fakta tersebut dibedah secara tajam oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, Ph.D., dalam forum PKB Policy Roundtable Talk bertajuk “AI vs Manusia: Revolusi Industri Masa Depan atau Ancaman Eksistensi?” pada Rabu (6/5/2026).
Penetrasi Tinggi: Prestasi atau Ironi?
Berdasarkan pemaparan Stella, tingkat penetrasi penggunaan teknologi digital di tengah masyarakat Indonesia tergolong sangat tinggi, yakni mencapai 83 persen. Tingginya angka ini didorong oleh ketersediaan gawai yang hampir dimiliki semua orang serta akses internet yang relatif murah.
Namun, Stella memberikan pandangan kritis terkait tingginya angka konsumsi digital tersebut, terutama pada platform seperti TikTok.
“Indonesia itu pengguna TikTok nomor 1 di dunia. Ini saya nggak tahu kita harus tepuk tangan atau harus nangis sebenarnya. Serius saya. Pertama penetrasinya itu tinggi, 83 persen penetrasi,” ujar Stella Christie menyoroti fenomena tersebut.
Kesenjangan Investasi Teknologi yang Fantastis
Lebih jauh lagi, dominasi negara pencipta teknologi tidak terlepas dari komitmen investasi yang luar biasa besar. Amerika Serikat mengalokasikan ratusan miliar Dolar AS, disusul oleh Tiongkok di peringkat kedua.
Sayangnya, nama Indonesia bahkan tidak tercatat dalam peta investasi kecerdasan buatan global.
“Amerika Serikat itu menginvestasikan 338 billion US dollars. Tiongkok itu jauh di bawahnya, hanya 20 sekian miliar US dollar. Ada graf terakhir ini dari Stanford Technology Index, dan kita (Indonesia) nggak ada di graf itu,” paparnya.
Data Center Sebagai Motor Utama PDB
Di negara-negara maju, investasi raksasa pada infrastruktur AI—khususnya Pusat Data (Data Center)—kini telah terbukti menjadi lokomotif baru perekonomian nasional mereka.
Stella mengungkapkan betapa masifnya dampak ekonomi dari infrastruktur digital tersebut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) negara adidaya.
“Pertumbuhan GDP Amerika Serikat tahun lalu, 85 persennya datang dari data center. Itu bisnis yang paling besar dan yang paling besar mendatangkan revenue atau growth dan GDP di Amerika Serikat,” pungkasnya memberikan perbandingan.
Sebagai penutup, realitas ini menjadi alarm sekaligus tantangan besar bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Ke depannya, langkah strategis sangat dibutuhkan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pangsa pasar empuk bagi produk digital asing, melainkan mulai bertransformasi menjadi pemain utama dalam inovasi teknologi dan kecerdasan buatan.







