Menakar Ancaman “Dead Internet Theory”: Benarkah Internet Sudah Mati Sejak Tahun 2017?

JAKARTA, pkbgarut.id – Pengguna media sosial mungkin kerap menyadari adanya perubahan drastis pada linimasa mereka belakangan ini. Konten yang repetitif, komentar-komentar acak dari akun terverifikasi yang tidak sesuai konteks, hingga menjamurnya video pendek yang sepenuhnya diproduksi oleh Kecerdasan Buatan (AI) kini menjadi pemandangan sehari-hari.

Mengupas fenomena tersebut, kreator konten edukasi Angellie Nabilla dari kanal YouTube Malaka menyoroti sebuah hipotesis besar yang dikenal sebagai Dead Internet Theory (Teori Internet Mati). Dalam analisisnya, ia memaparkan bahwa keanehan ekosistem dunia maya saat ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pergeseran ekstrem cara kerja algoritma dan ekonomi digital.

“Kalian pernah tidak merasa kalau internet belakangan ini rasanya aneh sekali? Isinya video yang polanya mirip semua, bahkan banyak klip pendek yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI atau cuplikan film dengan narasi AI,” ungkap Angellie Nabilla dalam tayangannya.


Kematian Internet dan Dominasi Mesin

Angellie menjelaskan bahwa Dead Internet Theory memandang ruang digital yang autentik sebenarnya telah tiada sejak beberapa tahun lalu. Ruang interaksi manusia yang dulunya organik kini telah tergantikan oleh otomatisasi tingkat tinggi.

“Teori ini menyebutkan bahwa internet sebenarnya sudah mati sejak tahun 2016 atau 2017. Jadi, semua interaksi yang kita lihat sekarang—seperti like, comment, dan share—mayoritas dilakukan oleh bot atau AI. Kita yang masih menggunakan media sosial mungkin adalah satu dari sedikit manusia asli yang tersisa di dalam hutan digital ini,” jelasnya.

Mengutip data dari perusahaan keamanan siber Imperva, Angellie memaparkan fakta mengejutkan bahwa hampir 50% lalu lintas (traffic) internet di dunia saat ini aslinya tidak berasal dari manusia, melainkan dari bot. Penggunaan tes verifikasi manusia seperti CAPTCHA atau puzzle pun dinilai sudah tidak efektif lagi dalam membendung arus akun otomatis.


Terjebak dalam “Ekonomi Atensi”

Perubahan besar ini dipicu oleh transformasi internet menjadi mesin pencetak uang berbasis Attention Economy (Ekonomi Atensi)—sebuah konsep yang pertama kali dicetuskan oleh pakar ekonomi peraih Nobel, Herbert A. Simon, pada tahun 1971. Simon memprediksi bahwa melimpahnya informasi akan menciptakan kelangkaan pada perhatian manusia.

Menurut Angellie, keterbatasan biologis manusia yang membutuhkan istirahat, tidur, dan mudah bosan membuat para pemilik modal memutar otak agar perputaran uang dan angka keterlibatan (engagement) tidak ikut berhenti.

“Karena kapasitas otak manusia untuk memproses informasi terbatas, sedangkan jumlah konten terus meledak, para pemilik modal akhirnya membutuhkan sesuatu yang lebih stabil untuk menjaga angka engagement. Di sinilah ‘kematian’ itu dimulai. Mereka menciptakan bot untuk memanaskan suasana, AI untuk memproduksi konten masif, dan algoritma untuk mengatur apa yang boleh kita lihat,” papar Angellie.

Praktik ini pada akhirnya melahirkan Engagement Fraud (penipuan interaksi), di mana pihak pengiklan atau brand dirugikan karena membayar penuh untuk klik dan interaksi yang ternyata dilakukan oleh kumpulan robot.


Ancaman bagi Kreator Asli dan Krisis Kepercayaan

Masuknya era AI Generatif yang masif makin memperparah matinya autentikasi karya di internet. Pembuatan artikel, gambar, hingga video kini hanya membutuhkan sebuah perintah teks (prompt), yang memicu lahirnya konten “sampah” (slop) secara instan.

“Kreator asli yang butuh waktu sekitar 10 jam untuk membuat satu karya bisa kalah telak oleh akun zombi yang mampu memposting 100 konten AI hanya dalam satu jam. Ini yang membuat internet terasa mati, isinya hanya mosaik dari konten-konten lama,” tegasnya.

Siklus perputaran uang pun menjadi sangat tidak masuk akal: konten dibuat oleh AI, dikomentari dan disukai oleh bot, lalu sistem periklanan otomatis tetap mencairkan dana kepada pemilik akun tanpa adanya partisipasi nyata dari manusia.

Dalam jangka panjang, Angellie memperingatkan bahwa fenomena ini dapat menghancurkan fondasi ekonomi digital, yaitu kepercayaan (trust). Jika masyarakat tidak lagi percaya pada informasi yang mereka lihat, dunia maya terancam memasuki Era Kegelapan Informasi (The Dark Age of Information).

Sebagai langkah bertahan hidup di tengah kepungan informasi palsu dan manipulasi bot, Angellie memberikan tiga pesan kunci kepada para pengguna internet:

  • Kurangi Ketergantungan pada Algoritma: “Jangan hanya menunggu apa yang muncul di timeline, carilah sumber informasi secara manual. Malu bertanya tidak hanya sesat di jalan, tapi juga ketipu robot,” pesannya.
  • Hargai Karya Otentik: Memberikan dukungan lebih kepada kreator manusia yang terbukti masih melakukan riset dan memproduksi karya menggunakan jerih payah sendiri.
  • Kembali Berinteraksi di Dunia Nyata: Memperbanyak diskusi dan membangun komunitas fisik di luar layar, di mana validasi dan rekomendasi dari mulut ke mulut masih menjadi hal yang paling murni dan tidak bisa dimanipulasi mesin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *